Minggu, 02 Oktober 2011

Tugas psikologi lintas budaya ke 1

Nama : Asriana Novi Saesa
NPM : 10507029
Kelas : 3 PA 06



A. Pengertian Psikologi Lintas Budaya

Psikologi lintas budaya adalah kajian mengenai persamaan dan perbedaan dalam fungsi individu secara psikologis, dalam berbagai budaya dan kelompok etnik; mengenai hubungan-hubungan di antara ubaha psikologis dan sosio-budaya, ekologis, dan ubahan biologis; serta mengenai perubahan-perubahan yang berlangsung dalam ubahan-ubahan tersebut.
Menurut Segall, Dasen dan Poortinga, psikologi lintas-budaya adalah kajian mengenai perilaku manusia dan penyebarannya, sekaligus memperhitungkan cara perilaku itu dibentuk dan dipengaruhi oleh kekuatan-kekuatan sosial dan budaya. Definisi ini mengarahkan perhatian pada dua hal pokok: keragaman perilaku manusia di dunia dan kaitan antara perilaku terjadi. Definisi ini relatif sederhana dan memunculkan banyak persoalan. Sejumlah definisi lain mengungkapkan beberapa segi baru dan menekankan beberapa kompleksitas: 1. Riset lintas-budaya dalam psikologi adalah perbandingan sistematik dan eksplisit antara variabel psikologis di bawah kondisi-kondisi perbedaan budaya dengan maksud mengkhususkan antesede-anteseden dan proses-proses yang memerantarai kemunculan perbedaan perilaku. Berbicara budaya adalah berbicara pada ranah sosial dan sekaligus ranah individual. Pada ranah sosial karena budaya lahir ketika manusia bertemu dengan manusia lainnya dan membangun kehidupan bersama yang lebih dari sekedar pertemuan-pertemuan insidental. Dari kehidupan bersama tersebut diadakanlah aturan-aturan, nilai-nilai kebiasaan-kebiasaan hingga kadang sampai pada kepercayaan-kepercayaan transedental yang semuanya berpengaruh sekaligus menjadi kerangka perilaku dari individu-individu yang masuk dalam kehidupan bersama. Semua tata nilai, perilaku, dan kepercayaan yang dimiliki sekelompok individu itulah yang disebut budaya.
Pada ranah individual adalah budaya diawali ketika individu-individu bertemu untuk membangun kehidupan bersama dimana individu-individu tersebut memiliki keunikan masing-masing dan saling memberi pengaruh. Ketika budaya sudah terbentuk, setiap individu merupakan agen-agen budaya yang memberi keunikan, membawa perubahan, sekaligus penyebar. Individu-individu membawa budayanya pada setiap tempat dan situasi kehidupannya sekaligus mengamati dan belajar budaya lain dari individu-individu lain yang berinteraksi dengannya. Dari sini terlihat bahwa budaya sangat mempengaruhi perilaku individu.
Budaya telah menjadi perluasan topik ilmu psikologi di mana mekanisme berpikir dan bertindak pada suatu masyarakat kemudian dipelajari dan diperbandingkan terhadap masyarakat lainnya. Psikologi budaya mencoba mempelajari bagaimana faktor budaya dan etnis mempengaruhi perilaku manusia. Di dalam kajiannya, terdapat pula paparan mengenai kepribadian individu yang dipandang sebagai hasil bentukan sistem sosial yang di dalamnya tercakup budaya. Adapun kajian lintas budaya merupakan pendekatan yang digunakan oleh ilmuan sosial dalam mengevaluasi budaya-budaya yang berbeda dalam dimensi tertentu dari kebudayaan. Sebagai makhluk yang dapat berpikir, manusia memiliki pola-pola tertentu dalam bertingkah laku. Tingkah laku ini menjadi sebuah jembatan bagi manusia untuk memasuki kondisi yang lebih maju. Pada hakikatnya, budaya tidak hanya membatasi masyarakat, tetapi juga eksistensi biologisnya, tidak hanya bagian dari kemanusiaan, tetapi struktur instingtifnya sendiri. Namun demikian, batasan tersebut merupakan prasyarat dari sebuah kemajuan.
Lewin memberikan penjelasan mengenai peranan penting hubungan pribadi dengan lingkungan. Meksipun terdapat konstruk psikologis individu yang sulit ditembus oleh lingkungan luar, lingkungan masih tetap memiliki kontribusi dalam perkembangan individu. Dalam teori Medan yang digagas Lewin ini, pribadi tak dapat dipikirkan secara terpisah dari lingkungannya.
Kelly mendefinisikan budaya sebagai bagian yang terlibat dalam proses harapan-harapan yang dipelajari/dialami. Orang-orang yang memiliki kelompok budaya yang sama akan mengembangkan cara-cara tertentu dalam mengonstruk peristiwa-peristiwa, dan mereka pun mengembangkan jenis-jenis harapan yang sama mengenai jenis-jenis perilaku tertentu.
Terdapat suatu benang merah antara pendapat Lewin dan Kelly. Individu senantiasa bersinggungan dengan dunianya (lingkungan). Sementara itu, sebagai masyarakat dunia, manusia mungkin saja mengembangkan kebudayaan yang hampir sama antara satu masyarakat dengan masyarakat lainnya.
Jika diamati, saat ini manusia sering kali menghadapi permasalahan yang disebabkan oleh budaya yang tidak mendukung. Ketika pengaruh budaya buruk mempengaruhi kepribadiaan seseorang maka dengan sendirinya berbagai masalah yang tidak di inginkan akan terjadi secara terus-menerus. Sebagai contoh, ketika budaya berpakaian minim bagi kaum perempuan masuk ke Indonesia, muncul berbagai perdebatan.

Kepribadian dalam Lintas Budaya
Kepribadian merupakan konsep dasar psikologi yang berusaha menjelaskan keunikan manusia. Kepribadian mempengaruhi dan menjadi kerangka acuan dari pola pikir dan perilaku manusia, serta bertindak sebagi aspek fundamental dari setiap individu yang tak lepas dari konsep kemanusiaan yang lebih nesar, yaitu budaya sebagai konstuk sosial.
Menurut Roucek dan Warren, kepribadian adalah organisasi yang terdiri atas faktor-faktor biologis, psikologis dan sosiologis sebagaimana digambarkan oleh bagan di bawah ini:













B. Hubungan Psikologi Lintas Budaya Dengan Ilmu Lainnya

Studi dalam upaya disiplin untuk memperluas kompas riset psikologi di luar negara-negara industri maju beberapa yang telah tradisional terfokus. Sedangkan definisi dari apa yang merupakan budaya sangat bervariasi, sebagian besar ahli sepakat bahwa "budaya" melibatkan pola perilaku, simbol, dan nilai-nilai. Antropolog terkemuka Clifford Geertz menggambarkan budaya sebagai suatu pola makna yang ditransmisikan secara historis terwujud dalam simbol-simbol, suatu sistem konsepsi yang diwariskan disajikan dalam bentuk simbolik dengan cara di mana manusia berkomunikasi, melestarikan, dan mengembangkan pengetahuan mereka tentang dan sikap terhadap kehidupan. Sementara psikologi lintas-budaya dan antropologi sering tumpang tindih, baik disiplin cenderung memfokuskan pada aspek yang berbeda dari suatu budaya.
Sebagai contoh, banyak masalah yang menarik bagi psikolog yang tidak ditangani oleh antropolog, yang memiliki masalah mereka sendiri secara tradisional, termasuk topik-topik seperti kekerabatan, distribusi tanah, dan ritual. Ketika antropolog melakukan berkonsentrasi pada bidang psikologi, mereka fokus pada kegiatan dimana data dapat dikumpulkan melalui pengamatan langsung, seperti usia anak-anak di sapih atau praktek pengasuhan anak. Namun, tidak ada tubuh yang signifikan data antropologi pada banyak pertanyaan yang lebih abstrak sering ditangani oleh psikolog, seperti konsepsi budaya intelijen, penelitian lintas budaya dapat menghasilkan informasi penting tentang banyak topik yang menarik bagi psikolog. Dalam salah satu studi yang paling terkenal, peneliti menemukan bukti bahwa proses persepsi manusia mengembangkan berbeda tergantung pada apa jenis bentuk dan sudut orang terpapar setiap hari di lingkungan mereka. Masyarakat yang tinggal di negara-negara seperti Amerika Serikat dengan bangunan banyak mengandung sudut 90 derajat rentan terhadap ilusi optik yang berbeda dari yang di desa pedesaan Afrika, di mana bangunan tersebut tidak norma. Studi-studi lintas budaya juga menemukan bahwa gejala gangguan psikologis yang paling bervariasi dari satu budaya ke yang lain, dan telah menyebabkan peninjauan kembali atas apa yang merupakan seksualitas manusia normal. Sebagai contoh, homoseksualitas, lama dianggap perilaku patologis di Amerika Serikat, disetujui dari dalam budaya lain dan bahkan didorong dalam beberapa sebagai outlet seksual yang normal sebelum menikah.

C. Melintasi Budaya Bersama Psikologi

Psikologi adalah salah satu ilmu sosial yang lahir serta dibesarkan oleh ilmuwan barat. Konsekuensi dari hal tersebut adalah terbentuknya nuansa ilmu sosial yang memandang manusia dengan kacamata barat. Di dalam berbagai teori serta prinsip-prinsip ilmu psikologi kita bisa menemukan adanya nuansa epirisisme yang sangat tegas, dimana spiritualitas dan metafisik dianggap sebagai sesuatu yang tidak ilmiah.
Kini, kita bisa melihat bahwa psikologi didominasi oleh 2 benua yaitu Amerika dan Eropa, dimana para psikolog Amerika memilih paradigma behavioristik dalam menjelaskan perilaku manusia, sedangkan Eropa memberi nuansa yang lebih subyektif dan humanistik dalam mendeskripsikan perilaku. Indonesia sebagai sebuah bangsa yang baru merasakan kemerdekaan hak serta kemerdekaan ilmiah selama 62 tahun tidak memiliki pilihan selain mengadopsi prinsip-prinsip ilmiah yang sudah dikembangkan oleh negara-negara barat. Psikologi termasuk salah satu dari cabang ilmu yang diadopsi oleh Indonesia untuk menjelaskan perilaku manusia yang terjadi di masyarakat lokal.
Adopsi dari pandangan-pandangan barat mengenai perilaku manusia ternyata menimbulkan sebuah masalah tersendiri.
Pandangan praktis-behavioristik mengenai manusia yang digunakan oleh Amerika ternyata tidak selalu sesuai dengan budaya timur, Sebagai contoh, sebuah penelitian yang dilakukan oleh Paul Ekman dkk mengenai perayaan asyura di Iran, ternyata tidak berhasil untuk menangkap esensi perilaku kelompok tersebut. Tangisan-tangisan dari pengikut ritual tersebut yang merupakan ungkapan spiritual, didokumentasikan oleh Ekman sebagai sebuah perilaku yang aneh dan menyimpang. Pandangan psikologi barat juga akan mendapatkan kesulitan ketika menjelaskan perilaku-perilaku sosial masyarakat Indonesia. Sebagai contoh, kita bisa temukan di masyarakat barat bahwa penggunaan handphone adalah untuk kepentingan praktis manusia dalam berkomunikasi. Oleh sebab itu, masyarakat barat cenderung memilih sebuah hp berdasarkan utilities yang dimilikinya, mereka tidak akan mengganti hp sebelum muncul kebutuhan praktis yang baru. Sedangkan, di Indonesia kita bisa dapati bahwa sebuah handphone bukan hanya berfungsi secara praktis dalam kehidupan sehari-hari, akan tetapi ia juga berfungsi sebagai simbol status sosial. Dimana, seseorang dengan handphone terbaru menandakan bahwa ia memiliki status sosial serta profesi yang tinggi. Oleh sebab itu kita bisa dapati besarnya konsumsi dan cepatnya pergantian hp pada masyarakat Indonesia.
Jika kita menggunakan katacamata psikologi barat dalam menjelaskan fenomenon ini, kita akan dapati penjelasan yang mengatakan bahwa orang Indonesia adalah orang yang irasional serta konsumtif. Contoh lain yang bisa diambil perihal variasi perilaku antar budaya adalah perilaku individu di dalam ruang publik. Di negara eropa sebagaimana Perancis kita bisa menemukan bahwa ruang publik adalah ruang yang memiliki batasan serta norma tersendiri. Bahkan, ruang publik tersebut dibatasi oleh hukum negara, dimana kita bisa dapati adanya hukum pidana mengenai hal-hal kecil seperti suara. Sementara itu, di Indonesia kita bisa dapati bahwa ruang publik adalah sebuah ruang tanpa batasan dan norma-norma tertentu. Kita bisa mendapati ruang publik, seperti jalan umum, sering digunakan untuk selametan, layar tancap, sampai panggung dangdut. Teori psikologi barat tentu akan memandang hal ini sebagai sebuah perilaku disturbing. Bahkan, hal tesebut ternyata ditoleransi serta disukai oleh masyarakat Indonesia. Perbedaan perilaku berdasarkan kultur ini mengharuskan adanya psikologi yang menelusuri apakah konsep-konsep serta teori yang dilahirkan oleh ilmuwan barat dapat digunakan pula di budaya lain.
Psikologi lintas budaya adalah ekstensi ilmu psikologi yang menaruh perhatian pada pengujian berbagai kemungkinan batas-batas pengetahuan dengan mempelajari orang-orang dari berbagai budaya yang berbeda. Dalam pengertian yang sempit sebuah penelitian lintas budaya adalah sebuah penelitian psikologi yang melibatkan partisipan dari berbagai latar belakang budaya. Sedangkan, dalam pengertian luas psikologi lintas budaya terkait dengan pemahaman apakan kebenaran dan prinsip-prinsip psikologis bersifat universal atau khas budaya (Matsumoto, 2000). Di dalam bukunya Matsumoto (2000) juga menyertakan beberapa kebutuhan untuk mempelajari psikologi lintas budaya, yaitu:
 Adanya perubahan demografi masyarakat secara keseluruhan,
 Adanya perubahan demografi mahasiswa universitas,
 Adanya perubahan demografi pengajar dan peneliti psikologi,
 Adanya peningkatan kesadaran akan etnosentrisme,
 Adanya pengakuan akan nilai penting dan kegunaan penelitian lintas-budaya.
Sebelum kita memasuki lingkup psikologi lintas budaya kita perlu terlebih dahulu memahami makna dari budaya. Budaya tentunya adalah sebuah konsep yang tidak mudah untuk ditemukan makna dan definisinya. Akan tetapi kita bisa menemukan beberapa definisi dari para peneliti sosial yang kita bisa gunakan untuk kepentingan praktis ilmiah. Di dalam bahasa Indonesia, budaya berasal dari bahasa sansekerta yaitu buddhayah yang merupakan bentuk jamak dari buddhi (budi atau akal) diartikan sebagai hal-hal yang berkaitan dengan budi dan akal manusia. Dalam bahasa Inggris, kebudayaan disebut culture, yang berasal dari kata latin colere, yaitu mengolah atau mengerjakan, bisa juga diartikan sebagai mengolah tanah atau bertani.
Barnouw (1985) menjelaskan budaya sebagai sekumpulan sikap, nilai, keyakinan, dan perilaku yang dimiliki bersama oleh sekelompok orang, yang dikomunikasikan dari satu generasi ke generasi berikutnya lewat bahasa atau beberapa sarana komunikasi lain.
Di dalam definisi yang diberikan oleh Barnouw (1985) budaya tidak terikat dengan suku maupun ras tertentu, dimana seseorang dengan keturunan sunda bisa jadi lebih menghayati budaya betawi dibandingkan dengan orang betawi sendiri. Selain itu, definisi tersebut juga tidak terikat dengan nasionalitas atau identitas kelompok berdasarkan tempat tinggal. Dimana seseorang yang tinggal di Jakarta belum tentu memahami, menghayati, dan mempraktekkan nilai-nilai serta prinsip-prinsip betawi. Dengan demikian, definisi yang diberikan Barnouw (1985) lebih melihat budaya sebagai sebuah konstruk sosiopsikologis yang bisa bersifat individual-psikologis serta sosial-makro.
Untuk lebih memahami prinsip-prinsip psikologi lintas-budaya adalah melalui penggunaan istilah etik dan emik. Etik mengacu pada temuan-temuan yang tampak konsisiten/ tetap di berbagai budaya; dengan kata lain, sebuah etik mengacu pada kebenaran atau prinsip yang universal (Matsumoto, 2000). Sebagai contoh, Paul Ekman pernah meneliti bentuk-bentuk ekspresi wajah di kelompok-kelompok pedalaman, ternyata dia menemukan bahwa beberapa ekspresi wajah seperti tersenyum bersifat universal di setiap budaya. Sedangkan Emik mengacu kepada temuan-temuan yang tampak berbeda untuk budaya yang berbeda; dengan demikian, sebuah emik mengacu pada kebenaran yang bersifat khas budaya (culture-spesific).
Konsep Etik dan Emik ini kini menjadi penting dalam menjelaskan sebuah fenomenon psikologis, karena jika tidak seorang peneliti psikologi akan terjebak di dalam bias budaya. Seorang psikolog bukanlah seorang manusia suci yang selalu memandang sesuatu secara obyektif dan benar, akan tetapi ia adalah seorang manusia yang mau tidak mau memiliki cara berpikir yang dipengaruhi oleh konteks sosial-budaya dimana ia berada. Seorang psikolog barat bisa saja menyimpulkan bahwa orang Indonesia adalah orang-orang yang tidak mengenal sopan santun atau memperhatikan estetika, karena kemana saja mereka pergi mereka menggunakan sandal. Padahal dari sudut pandang lokal (indegenous) menggunakan sandal adalah salah satu hal yang wajar-wajar saja ketika kita pergi ke sebuah ruang publik. Dengan demikian, pemahaman atas adanya Etik dan Emik perilaku akan membuka wawasan lebih baik mengenai perilaku manusia yang sangat terkait dengan budaya.

Sumber :
Matsumoto, D .(2000). Pengantar psikologi lintas budaya. Pustaka Pelajar: Yogyakarta.
:http://translate.google.co.id/translate?hl=id&langpair=en%7Cid&u=http://findarticles.com/p/articles/mi_g2699/is_0000/ai_2699000080

Tidak ada komentar:

Posting Komentar